Ciqbal’s Weblog

February 3, 2009

Kidung Malam (14) Mengharap Hidup Rukun

Filed under: Uncategorized — ciqbal @ 2:42 pm

Sementara itu, sesampainya di keraton Hastinapura, Patih Sengkuni melaporkan kepada raja, bahwa lenga tala gagal direbut. Sekarang dibawa pergi oleh seorang pandhita sakti. Bahkan ia telah mengangkat murid Pandhawa dan membawa serta mereka ke padepokannya.

Duryudana dan para Kurawa merengek-rengek memohon kepada raja agar Pandhita sakti tersebut diangkat menjadi Guru Istana.

“Ampun Kakanda Prabu, perlu menjadi pertimbangan, ia mau menjadi guru para Kurawa asalkan Pandawa lima diperkenankan masuk istana, pada hal beberapa waktu yang lalu Kanda Prabu telah mengusir mereka.”

“Jika demikian biarlah anak-anakku yang datang berguru ke padanya”

“Ampun Kakanda Prabu, langkah tersebut akan merosotkan kewibawaan paduka raja,”

“Lantas bagaimana pendapatmu Patih Sengkuni?”

“Kanda Prabu, sebelumnya aku ingin mencari padepokannya untuk kemudian memaksa dia datang di istana tanpa Pandawa Lima”

Mendengar rencana Patih Sengkuni, Duryudana yang menyaksikan sendiri kesaktiannya padhita tersebut bertanya, lalu siapa yang mampu memaksanya?

Sengkuni sempat gelagepan, namun ia kemudian berkata, “Aku akan memerintahkan satu bregada prajurit untuk mengepung dan kemudian menangkapnya.

“Sengkuni! Apakah untuk mendapatkan seorang guru tidak boleh dengan cara paksa. Jika terjadi korban nyawa apakah engkau mau bertanggungjawab?

“Maksud saya tidak begitu Maha Resi Bisma. Apa yang akan kami lakukan ini semata-mata merupakan tanda bakti kepada raja. Karena jika nantinya para putra raja mendapatkan guru yang sakti, dan menyerap ilmunya, mereka akan mampu menjaga, memperkuat dan memperluas kerajaan Hastinapura”

“Sengkuni, Sengkuni, apakah engkau tidak pernah melihat guru sakti di Hastinapura ini? Coba kamu jawab dengan jujur, tidak adakah Guru Sakti di Hastinapura? Sengkuni!”

“Ada, ada Maha Resi, bahkan tidak sekedar ada, tetapi banyak. Jumlahnya kira-kira ratusan, ee mungkin bisa mencapai ribuan. Sedangkan yang diangkat menjadi guru istana saja sudah seratus lebih. Padahal gaji mereka…” “Cukup!! Sekarang jawab pertanyaanku, apakah para Kurawa telah menyerap semua ilmu dari mereka, terutama para guru yang digaji istana?” Eee sudah, eh belum dhing. Maksud saya semua ilmu telah diajarkan dan dipahami, tetapi belum semua di kuasai.” “Bagus, lalu apa usahamu agar para Kurawa mampu menyerap ilmu para guru istana dengan baik? “

Ampun Maha Resi Bisma, jika bibir ini menjadi panjang, salah satunya karena setiap waktu aku selalu mengatakan kepada keponakanku para kurawa, belajarlah yang tekun dan rajin. Tetapi memang mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi tidak cukup dengan rajin dan tekun, tetapi membutuhkan bakat dan kemampuan” “Jadi menurutmu cucu-cucuku para Kurawa itu rajin dan tekun?” Iya, eee kadang-kadang rajin, dan kadang-kadang tekun. Eee rajin kok, tetapi” “Sengkuni, engkau akan mengatakan bahwa para Kurawa itu tekun dan rajin tetapi tidak berbakat dan tidak mampu menguasai ilmu-ilmu tinggi?” “Tidak demikian Sang Maha Resi, para Kurawa itu mempunyai bakat dan kemampuan, tetapi belum ada guru yang mampu menggali bakat dan kemampuannya”

“Sengkuni! Engkau jangan menyalahkan para guru istana! Engkau menganggap aku buta? Tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya? Bukankah para Kurawa tidak dengan sungguh-sungguh menyerap ilmu dari para guru istana? Dan itu sesungguhnya menjadi tanggunggjawabmu untuk memotivasi mereka.”

“Ampun Maha Resi, hamba ini seorang Patih, tugas hamba mengabdi kepada negara dan raja. Bukan sebagai pengasuh anak-anak raja.” “Baik! Jika demikian jangan ikut campur dalam hal mencari guru untuk para Kurawa. Anak Prabu Destarastra, ijinkanlah aku sendiri yang akan menemui guru sakti yang diinginkan anak-anakmu. Pertimbanganku agar para Kurawa dan para Pandawa menyerap ilmu dari guru yang sama, dengan aturan dan disiplin yang sama serta sumpah ketaatan yang sama pula. Sehingga dengan demikian ada harapan untuk mempersatukan diantara mereka.”

Destarastra setuju usul Resi Bisma, karena sesungguhnya ada harapan yang sama, agar diantara anak-anaknya dan anak-anak Pandudewanata hidup berdampingan dengan rukun. Tetapi entah apa sebabnya benih-benih permusuhan telah tumbuh lebih cepat dari pada benih-benih kerukunan.

Dengan pertimbangan bahwa Yamawidura mengetahui letak padepokan, tempat Pandhita Sakti berada, maka Destarastra memerintahkan kepada Yamawidura untuk mengiring Resi Bisma. Menurut keterangan Sadewa, sewaktu mohon restu kepada Ibunda Dewi Kunthi ke Panggombakan, ia beserta keempat saudaranya selama beberapa waktu tinggal di Padepokan Sokalima yang terletak di tapal batas wilayah Negara Pancalaradya, untuk berguru kepada Padhita Durna.

Pada hari yang telah disepakati, sebelum matahari terbit, Resi Bisma diiringi Yamawidura keluar dari Kestalan Keraton Hastinapura, menuju arah tenggara. Derap dari delapan kaki kuda yang mereka tumpangi, meninggalkan debu yang terbang terbawa angin dan menempel pada lekuk-lekuk bangunan Keraton Hastinapura yang indah.

herjaka

Kidung Malam (13) Merendam Dendam

Filed under: Uncategorized — ciqbal @ 2:37 pm

Tak tak. tak tak. jleng. Tak gentak gentung, jleng!
Bagaikan orang gila aku masuk keluar dusun.
Tidak mudah mendapatkan keterangan keberadaan Pertapaan Saptaarga.
Karena orang pada takut berdekatan denganku.
Tanah Jawa sangat luas.

Aku tersesat di Negara Pancalaradya. Dari cerita ‘mbok bakul sinambi wara’ bahwa Raja yang bertahta bernama Prabu Durpada. Yang menarik perhatianku bahwa sang raja adalah salah satu murid Begawan Abiyasa yang berasal dari negeri seberang. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bertemu kepada Prabu Durpada. Apapun yang terjadi aku ingin menghadap raja.

Niatku dihalangi oleh pengawal perbatasan.

Aku memaksakan kehendak, mereka bukan tandinganku. Dalam sekejap para pengawal perbatasan aku kalahkan dan aku masuk ke kota raja Pancalaradya. Di tengah kotaraja, aku dan anakku Aswatama dikepung prajurit. Rupanya khabar dari perbatasan telah sampai di sini.

Aku tidak gentar. Aku mengamuk setiap prajurit yang menghalangi aku robohkan. “Ayah!” aku berhenti mengamuk, ketika mendengar jerit anakku.

Aswatama disandera. Aku menjadi lemas seketika, dan menyerah, agar Aswatama tidak dilukai. Segera setelah aku berhenti melawan, ada utusan raja yang memerintahkan agar aku beserta Aswatama dibawa masuk menghadap raja. Utusan raja dan pengawal mengirid kami masuk menuju ke Bangsal Kencana, tempat Prabu Durpada menunggu. Berdebar hatiku melihat dari jauh Raja Pancalaradya. Ketika semakin dekat, benar yang aku duga, ia adalah adikku. Aku berteriak keras-keras. Sucitra! sembari mendekap erat-erat penuh sukacita.

Prabu Durpada terkejut. Ia hampir jatuh di lantai karena menahan dorongan tenagaku yang kegirangan.

Gandamana adik Durpada, kuatir keselamatan raja.

Dengan marah ia menyeret dan menghajarku.

Aku sengaja tidak melawan. Harapanku agar Sucitra keluar menghentikan perbuatan Gandamana, kemudian mengajakku dan anakku memasuki Kedaton untuk saling melepas rindu.

Sampai badanku remuk dihajar habis-habisan, Sucitra tidak keluar juga.

Aswatama menagis keras sekali, melihat aku dihajar Gandamana.

Setelah aku tak berdaya, Gandamana dan para Prajurit mengusir kami.

Sembari menagis sepanjang jalan, Aswatama yang biasanya aku gendong, berusaha menuntunku.

Di sepanjang jalan kami tidak berjumpa orang. Mungkin mereka menyingkir ketakutan, karena menganggap aku penjahat yang di hukum raja.

Sesampainya di sebuah sendang, Aswatama membantu aku membersihkan darah disekujur badanku yang mulai mengering.

Wajahku rusak, lengan kananku remuk.

Sucitra, Sucitra, mengapa engkau sengaja membiarkan aku dihajar oleh adikmu?

Mungkinkah engkau tidak ingat lagi wajahku, suaraku, kakakmu si Kumbayana.?

Mustahil! Ataukah engkau sengaja melupakan aku, mengubur masa lalulumu?

Dhuh Dewa, apakah dosaku, benarkah aku kuwalat dengan orang tua? hinga aku mengalami nasib seperti ini?

Aswatama memandangku penuh kesedihan.

Ia tidak menangis lagi, air matanya telah habis.

Hatinya menderita.

Aku lebih menderita, bukan karena penderitaanku, melainkan karena melihat penderitaan anakku, satu-satunya harapan hidupku.

Oh ngger, bocah bagus, Aswatama.

Bersabarlah. Nanti jika saatnya tiba, akan kutunjukan didepanmu. Pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana.

Siang malam kami berjalan, menggendong dendam, menyusuri jalan penderitaan, memilih tempat terpencil jauh dari keramaian.

Akhirnya kami temukan tempat yang cocok sebagai tempat tinggal.

Untuk menyembuhkan luka-lukaku.

Aku memeperdalam ilmu dan mengajarkannya kepada Aswatama.

Satu, dua orang perantau yang nyasar ketempatku, tertarik untuk berguru.

Jadilah tempat tinggalku sebagai padepokan kecil, aku namakan Soka Lima.

Diantara cantrik-cantrikku, belum kutemukan bakat menonjol, untuk kuajari ilmu-ilmu andalan. Agar dapat membalaskan dendamku.

Rata-rata mereka berkemampuan sedang, termasuk Aswatama.

Aku mendambakan murid yang pandai, bahkan teramat pandai.

Jika aku tunggu mungkin terlalu lama.

Maka saya putuskan untuk menyisihkan waktu, mencari di pusat pusat kota.

Pada akhirnya kalian tahu sendiri, kita dipertemukan pada saat para Kurawa ingin mengambil cupu lenga tala di sumur tua itu., demikian Durna mengakhiri ceritanya.

Aku merasa lega mendapat murid kalian berlima.

Dibenakku telah tergambarkan, kalianlah yang mampu mengobati sakit hatiku, dengan membalaskan dendamku kepada Durpada dan Gandamana.

Maka mulai sekarang belajarlah penuh semangat dan ketekunan.

Akan aku ajarkan ilmu-ilmu terbaik yang aku miliki.

Herjaka HS

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.