Ciqbal’s Weblog

February 3, 2009

Kidung Malam (8) Cupu Bercahaya

Filed under: epos mahabarata — ciqbal @ 2:16 pm

Para cantrik Padepokan Saptaarga yang ikut ke Panggombakan merasa tercabik hatinya, menyaksikan Sengkuni dan para Kurawa menghina guru mereka, Begawan Abiyasa. Sikap diam mereka bukan karena ketakutan, tetapi bagi mereka tidaklah terpuji membuat keributan pada saat bertandang di Panggombakan. Karena kesadaran tersebut, tanpa diperintah salah satu diantara para cantrik berlari keluar, untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Bimasena.

Sementara itu, rombongan Kurawa yang berhasil membawa Lenga Tala, bergantian menimang-nimang benda berbentuk oval bercahaya, sembari menari-nari di sepanjang jalan. Para peladang yang sedang merawat tanamannya, memilih menyembunyikan diri, dari pada harus memberi hormat sembah kepada para bangsawan yang tidak mereka sukai. Burung-burung pun terbang berhamburan meninggalkan pepohonan di pinggir jalan untuk mengabarkan kepada kawula Panggombakan untuk menjauhi jalan yang akan dilewati rombongan Patih Sengkuni dan para Kurawa, supaya hati mereka tidak dikotori oleh kejahatannya.

Cupu bercahaya berisi Lenga Tala yang dapat membuat kekebalan badan dari serangan segala jenis senjata dan pusaka, sungguh menyilaukan hati Patih Sengkuni dan Kurawa. Oleh karena nafsunya itu, mereka tidak memperdulikan lagi sesamanya, bahkan saudaranya atau malah pepundhennya yang seharusnya mereka hormati. Saking asyiknya mengamati benda hasil rampasannya, Patih Sengkuni dan Para Kurawa tidak menyadari bahwa Bimasena telah menyusul mereka.

Panas hati Bima. Ia tidak mampu lagi membendung luapan amarah. Tanpa banyak kata, dengan cepat kaki Bima yang perkasa menghampiri dada Dursasana. Terjengkang-lah Dursasana menipa Kurawa yang lain. Saat itulah tiba-tiba Bimasena merebut Lenga Tala dari tangan Duryudana. Patih Sengkuni kebingungan, seperti orang kebakaran jenggot. Dengan suara parau ia berteriak “Kejar Bimasena dan rebut Lenga Tala!” Dursasana segera bangkit mengejar Bimasena, diikuti Duryudana dan adik-adiknya serta Patih Sengkuni.

Bimasena adalah seoarang Ksatria sejati. Ia tidak lari. Dengan dada tegak Bima menunggu terjangan para Kurawa. Bimasena bergeming menerima pukulan bertubi-tubi. Ia berusaha dengan sekuat tenaga mempertahankan Lenga Tala. Namun sedahsyat apapun tenaga manusia tentu ada batasnya. Demikian pula Bimasena, menghadapi keroyokan para Kurawa. tenaganya semakin menyusut. Pada saat kelelahan, ia memutuskan untuk melempar Lenga Tala, jauh ke arah gunung Sataarga. Sengkuni dan para Kurawa terkejut sesaat, namun kemudian bagaikan gerombolan Serigala mengejar Domba, mereka berlari kearah jatuhnya Cupu Lenga Tala. Bimasena dan Harjuna dan beberapa cantrik menyusulnya. Bima berdiri tegak memandang ke arah jatuhnya Cupu Lenga Tala. Ada kelegaan dihati Bima, ketika ia membayangkan bahwa cupu tersebut akan membentur batu dan isinya tumpah, tidak dapat dimanfaatkan.

Tidaklah mudah untuk menemukan cupu yang dilempar Bimasena. Walaupun dengan sisa tenaganya, lemparan Bimasena jauh hingga menjangkau di balik bukit, sehingga Patih Sengkuni dan Kurawa kehilangan arah jatuhnya Cupu Lenga Tala. Menjelang sore, Cupu Lenga Tala belum di temukan. Akhirnya Patih Sengkuni dan Kurawa dipaksa menghentikan pencariannya, karena hari mulai gelap. Mereka bertekad tidak akan pulang ke Negara Hastinapura sebelum dapat menemukan cupu tersebut

Malam merambat pelan. Di tempat peristirahatan, Patih Sengkuni, Duryudana dan Dursana tidak dapat segera memejamkan mata. Kekhawatiran yang sama, muncul di dalam benaknya. Mereka khawatir jika malam terlalu panjang, Cupu Lenga Tala ditemukan orang lain. Niat mereka inging merobek malam sehingga pagi segera menjelang, untuk melanjutkan usahanya mencari dan menemukan Lenga Tala. Namun sang malam berjalan seperti biasanya, hingga gelapnya mencapai titik sempurna. Pada saat itu, hampir bersamaan, ketiganya tercengang melihat seleret sinar kebiru-biruan yang membelah langit dari bawah ke atas. Tanpa diperintah ketiganya bergegas menuju tempat asal sinar misterius tersebut. Karena kegaduhan langkah mereka, para Kurawa yang lain terbangun dari tidurnya. Tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh para pimpinan mereka, mereka bangun menyusul Patih Sengkuni, Duryudana dan Dursasana yang sudah mendahului hilang ditelan pekatnya malam.

(Herjaka)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: